SELAMAT DATANG DI BLOG IMPIAN1

Rabu, 05 Oktober 2011

Perilaku Negatif Remaja

Perilaku berpakaian anak remaja

Perempuan dan Mode

KabarIndonesia - Dunia perempuan menarik untuk didiskusikan. Perempuan dari sudut pandang tertentu, selalu dalam posisi tawar yang lemah. Karena itu, tidak sedikit orang di dunia termasuk di ini Republik menaruh simpati pada kaum perempuan dengan memperjuangkan hak-hak mereka.

Tapi pada sisi tertentu pula, perempuan selalu tampil selangkah lebih jauh ketimbang kaum lelaki. Bahkan perkembangan yang dialami perempuan terkadang melebihi ambang batas dari sisi moral dan etika. Pada hal, dalam kehidupan bermasyarakat, perempuan dikenal lebih santun dalam segala hal termasuk berbusana sekalipun.

Di banyak daerah di Indonesia pada tahun 70-an, ketika seorang perempuan mengenakan celana panjang, sebagian masyarakat memandang sinis, bahkan melahirkan sterotipe yang begitu menyakitkan. Perempuan dicap tidak lebih sebagai seorang wanita murahan bila ia mengenakan celana panjang, dan berbagai pelabelan negatif lainnya. Hal ini karena masyarakat memandang bahwa perempuan sudah ditakdirkan untuk megenakan rok. Pandangan ini seolah sebagai sebuah hal yang kodrati, meski sesungguhnya tidak demikian. Anggapan yang demikian lahir karena pengaruh budaya, dan ini tentunya berbeda dalam ruang, tempat dan waktu.

Bila kita sedikit berpikir realistis, maka justru jauh lebih baik dan sopan bila seorang perempuan mengenakan celana panjang. Alasannya sederhana, lebih leluasa bergerak, karena perempuan yang bercelana panjang tidak mesti membenahi celananya saat ia duduk seperti dilakukan manakala mengenakan rok. Celana panjang juga lebih banyak menutupi bagian tubuh dari pinggul hingga ke pergelangan kaki.

Karena itu saya yakin, banyak yang berpendapat bahwa lebih sopan seorang perempuan mengenakan celana panjang ketimbang rok, apalagi dalam urusan yang menghendaki seorang perempuan mesti bergerak cepat dan cekatan. Sayangnya pada tahun 70-an perempuan yang mengenakan celana panjang dicap negatif oleh masyarakat. Barangkali di daerah tertentu bisa saja hal itu masih terjadi.

Dari Modernisasi ke Westernisasi

Bila seorang perempuan mengenakan celana panjang dicap sebagai perempuan murahan oleh masyarakat di wilayah tertentu pada zamannya, dan mungkin juga masih dianggap tabuh bagi masyarakat wilayah tertentu di era sekarang, namun itu hanya sebagian kecil. Zaman telah berubah begitu cepat seiring dengan perkembangan di berbagai aspek kehidupan.

Begitu halnya dengan dunia perempuan, dalam hal berbusana, mereka jauh lebih mentereng dibanding kaum lelaki. Di era sekarang seorang perempuan akan dicap kolot dan ketinggalan zaman bila tidak mengikuti arus modernisasi yang begitu cepat. Sutau penilaian yanag bertolak belakang dari zaman sebelumnya.

Kini beragam mode pakian dikenakan perempauan, tanpa berpikir apakah etis atau tidak, cocok dengan dirinya atau tidak, dan terlebih apakah mode busana yang dikenakan itu mengeksploitasi bagian tubuh tertentu atau tidak, bukanlah masalah. Asalkan tidak diberi label sebagai orang yang ketinggalan zaman. Karena itu, dalam berbagai acara entah itu pesta pernikahan, ke tempat ibadah atau acara seremonial lainnya tak sedikit perempuan yang mengenakan busana yang jauh dari ukuran etik dan moral budaya setempat.

Mode pakian yang terkesan mengeksploitasi sebagian tubuh kaum hawa tentunya mendapat tanggapan beragam. Banyak dari kaum perempuan sendiri menentang hal itu. Hal ini dapat kita lihat melalui aksi kaum perempuan di Semarang, Medan dan Yogyakarta yang menentang aksi pornografi dengan mengeksploitasi tubuh kaum perempuan pada peringatan Hari Kartini 21 April beberapa tahun silam. Mereka secara tegas meminta kepada pemerintah untuk memerangi pornografi karena tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Mencermati perkembangan mode dewasa ini, maka sadar atau tidak, banyak perempuan telah menjadi korban mode. Dengan alasan tidak dicap sebagai orang yang ketinggalan zaman, tak sedikit diantara kaum hawa ini mengenakan busana yang jauh dari batas moral dan etika yang dianut budaya setempat. Perempuan tidak lagi selektif dengan mode pakian yang ada tanpa mempertimbangkan etis tidaknya mode busana yang dikenakanya, dan apakah sesuai dengan karekteristik Indonesia yang sudah terlanjur disebut sebagai negara yang paling menjunjung tinggi nilai etik dan moral.

Juga tak sedikit perempuan menjadi cover berbagai majalah dengan mengenakan busana yang terkesan mengeksploitasi bagian tertentu dari tubuh mereka. Tentunya, hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, seperti ekonomi atau bahkan sekedar numpang tenar dengan jalan pintas alias potong kompas, dan selain itu juga karena memang berprofesi sebagai model. Disini masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Bagi pihak pengelolah media, tentunya mereka berharap dengan model cover seperti itu bisa membuat tertarik kalangan pembaca yang pada akhirnya berdampak pada meledaknya oplah penjualan. Sementara sang model diuntungkan secara finansial, disamping prestise dan ketenaran yang dipetiknya.

Akan halnya para perancang mode, tidak bisa disalahkan begitu saja. Mereka boleh merancang mode pakian seturut kehendak, dan inspirasi yang didapatinya. Yang menjadi targetnya adalah bahwa hasil rancangannya itu dapat menarik minat. Karena itu, satu hal yang tentu diharapkan adalah kesadaran kaum perempuan itu sendiri. Kita berharap agar perempuan selektif mengikuti perkembangan mode. Selektetif berarti sebelum memutuskan untuk menggunakan mode pakaian tertentu, harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti aspek budaya, etik/moral, agama dan beragam aspek lainnya, tak terkecuali apakah mode itu sesuai dengan kepribadian atau tidak.

Dengan demikian faham modernisasi yang dianut Indonesia tidak menjadi faham westernisasi (kebarat-baratan). Sangat disayangkan kalau begitu banyak pejuang hak-hak perempuan yang relah berdiri dibawah terik saat demonstrasi menyuarakan kepentingan perempuan . Tapi pada sisi lain, masih terlalu banyak perempuan yang justru dengan sengaja/tidak dengan sengaja melakoni peran yang justru ditentang oleh sebagian kaumnya yang begitu peduli dengan nasib mereka.

Perlu Instrumen Hukum

Meski dalam kasus ini perempuan dituntut selektif mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam hal berbusana, karena merekalah pemegang keputusan menggunakan atau tidak mode pakian tertentu, namun pemerintah tidak perlu menutup mata, bila semua kita sepakat bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai akhlak dan moral. Karena itu diperlukan instrumen hukum untuk membatasi para perancang mode, sejauh mana suatu mode itu masih sesuai dengan standar etika dan moral bangsa, bila mode itu kemudian diperkenalkan kepada masyarakat. Sayangnya ketika instrumen hukum itu lahir berupa UU Pornografi banyak juga yang menentang disamping ada juga yang menerima UU dimaksud.

Meski ini terkesan sulit untuk dilakukan, karena berbicara soal etika dan moral memang sangat relatif, namun setidaknya perlu ada standar nilai yang bisa menjadi pegangan semua kita untuk menentukan apakah suatu mode pakian itu etis atau tidak dari berbagai aspek. Penulis berpendapat, bahwa dengan adanya instrumen hukum yang jelas untuk mengatur bagaimana rancangan mode pakian yang etis, atau bagaimana etika seseorang harus berpakian maka hal itu tentunya akan berimplikasi positip, tidak saja dalam hal upaya mengeksploitasi tubuh kaum perempuan tapi juga dapat menekan angka kasus kriminalitas, terutama dalam kasus-kasus yang menempatkan permpuan sebagai korban, seperti kasus pemerkosaan. Dalam banyak hal, pemerkosaan terjadi karena pelaku terangsang melihat perempuan yang mengenakan pakian dengan mode yang mempertontonkan bagian tubuhnya yang mengundang libido.

Di sini penulis tidak sedang membenarkan posisi pelaku, tapi perlu diingat bahwa dalam hal respon terhadap rangsangan seksual, laki-laki tidak sama dengan perempuan. Hasrat seksual laki-laki bisa bangkit hanya dengan melihat, dan itu adalah hal yang sangat kodrati karena bekerjanya hormon testosteron. Pada tataran ini pelaku pemerkosaan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun, tapi perlu diketahui bahwa perbuatan itu dilakukan karena juga peluang yang diberikan korban itu sendiri. Karena itu, ingat-ingatlah pesan Bang Napi yang selalu tayangkan di RCTI. (*)

Berpakaian negatif

Gaya hidup merupaan gambaran bagi setiap orang yang mengenakannya dan menggambarkan seberapa besar nilai moral orang tersebut dalam masyarakat disekitarnya. Atau juga, gaya hidup adalah suatu seni yang dibudayakan oleh setiap orang. Gaya hidup juga sangat berkaitan erat dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Semakin bertambahnya zaman dan semakin canggihnya teknologi, maka semakin berkembang luas pula penerapan gaya hidup oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam arti lain, gaya hidup dapat memberikan pengaruh positif atau negatif bagi yang menjalankannya. Yah, tergantung pada bagaimana orang tersebut ngejalaninnya.

Dewasa ini, gaya hidup sering disalahgunakan oleh sebagian besar remaja. Apalagi para remaja yang berada dalam kota Metropolitan. Mereka cenderung bergaya hidup dengan mengikuti mode masa kini. Tentu saja, mode yang mereka tiru adalah mode dari orang barat. Jika mereka dapat memfilter dengan baik dan tepat, maka pengaruhnya juga akan positif. Namun sebaliknya, jika tidak pintar dalam memflter mode dari orang barat tersebut, maka akan berpengaruh negatif bagi mereka sendiri.

Salah satu contoh gaya hidup para remaja yang mengikuti mode orang barat dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah ” Berpakaian “. Masalah berpakaian para remaja masa kini selalu dikaitkan dengan perkembangan zaman dan teknologi. Karena, sebagian remaja Indonesia khususnya, dalam berpakaian selalu mengkuti mode yang berlaku. Bahkan yang lebih menyedihkan, di stasiun-stasiun tv banyak ditampilkan contoh gaya hidup dalam berpakaian para remaja yang mengikuti mode orang barat. Otomatis bukan hanya remaja Metropolitan saja yang mengikuti mode tersebut, tetapi juga orang-orang yang berada dalam perkampungan atau pedalaman. Sebagian besar remaja Indonesia belum dapat memfilter budaya tersebut dengan baik. So, pengaruh negatiflah yang timbul dari dalam diri remaja itu sendiri.

Kita tahu bahwa mode yang dipakai oleh orang barat kebanyakan menyimpang dari moral. Sedangkan kita sadar bahwa Indonesia terkenal dengan kesopanannya dan budi luhurnya. Namun, sebagian remaja Indonesia kemudian meniru atau mengikuti mode orang barat tanpa memfilternya secara baik dan tepat. Dan mungkin itu akan berakibat buruk bagi generasi penerus kita nanti.

Contoh berikutnya, gaya hidup sebagian remaja yang mengikuti budaya orang barat adalah mengkonsumsi minum – minuman keras, narkoba, dan barang haram sejenislainnya. Mereka beranggapan bahwa jika tidak mengkonsumsi barang-barang tersebut, maka ia akan dinilai sebagai masyarakat yang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Ini adalah pengertian yang sangat salah. Di era modern ini, memang para remaja dituntut untuk berhati – hati dalam segala hal. Baik dalam pergaulan, maupun penerapan kehidupan. Padahal jika kita teliti, minum – minuman keras dan narkoba dapat merusak kesehatan dan mental orang yang mengkonsumsinya. Tetapi mereka tidak begitu paham dengan istilah itu. Mengapa?? Lagi-lagi karena pengaruh perkembangan zaman dan teknologi melalui tangan orang barat. Minum – minuman keras dan narkoba adalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh gaya hidup orang barat yang sangat berbahaya dan sangat berpengaruh bagi maju mundurnya suatu bangsa. Dan yang lebih anehnya, budaya tersebut telah diikuti oleh sebagian remaja Indonesia.

Untuk itu, di zaman yang serba modern ini orang tua yang mempunyai anak remaja harus memantau pergaulan, teman-teman, dan gaya hidup yang mereka terapkan. Dan untuk para remaja harus berhati -hati dalam menerima budaya dari luar dan harus bisa memfilter budaya dari luar secara baik dan tepat.

Download:
Perempuan dan Mode.docx


3 komentar:

terimakasih telah berkunjung ke blog saya,berikanlah saya hadiah dari jasa saya ini berupa komentar,paling tidak ucapan terima kasih